//
Tulisan terbaru
Zaman Kolonial

Kroncong Pada Tahun 1920-an


®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®

Oleh : Boneka Hantu

®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®

          Pada tahap awal, kira-kira sebelum perang dunia pertama (1914-1918), Pembeli piringan lagu kroncong tidak mengetahui siapa penyanyinya. Selain judul lagu yang tertulis pada label piringan (kertas berwarna di bagian tengah piringannya) biasanya biasanya hanya ada istilah seperti “Prempoean” atau “Lelaki” (atau “Lelaki 2”, “Lelaki dan Prempoean,” dan lain sebagainya) untuk sekedar member tahu jenis penyanyinya. Judul lagunya pun hanya berbeda sedikit  dari piringan satu kepiringanan lain :”Lagoe Krontjong”, “Krontjong Bandan” dan “Krontjong Moritsko” adalah judul untuk kebanyakan piringan kroncong zaman itu.

Pada pertengahan tahun 1920-an, ada beberapa perubahan cukup penting dalam music kroncong. Struktur akor dasar untuk akor lagu kroncong masih tetap stuktur “kroncong asli”, namun tempo (atau cepat lambatnya) semakin lambat, Sesudah tempo di perlambat ada sela yang dapat di isi dengan permainan dan liak-liuk vocal, sehingga variasi dan ornament dalam iringan dan nyanyian menjadi lebih banyak. Dalam periode itulah cak-cuk (teknik kait-mengait atau sahut menyahutan antara dua macam alat petik seperti ukulele dan mandolin) mulai hadir, di sertai pula “selo kendang”

Pada tahun 1920-an juga, labelpada piringan hitam mulai mencantumkan nama penyanyi dan judul lagu-lagu bukan sekedar “Lagu Krontjong” dinyanyikan oleh “Prempoean atau Lelaki” melaikan misalnya “Krontjong Selamat Tinggal” di nyanyikan oleh Miss Riboet. Dslsm tshsp ini sistem bintang mulai diterapkan di kroncong. sistem bintang ini pun makin lama makin kuat terbukti dengan adanya artikel di sutat kabar dan majalah  yang lebih memberi perhatian pribadi penyanyi dari pada keseniannya. Ada pula nama penyanyi yang menjadi judul lagu seperti (Kroncong Miss Riboet, Kroncong Miss Lee, dan banyak lagi) sampai foto penyanyi yang timbul di label piringannya. satu kegiatan yang ikut menguatkan siatem bintang pada musik kroncong adalah lomba yang disebut Concours (Konkurs) Kroncong. Concours Kroncong sering sekali di adakan sebagi puncak pasar malam. Lama kelamaan paling tidak pada paruh kedua tahun 1930-an sistem perlombaan berkembang menjadi sistem kampioenschap (kejuaraan), dengan pengumuman juara se-Jawa Barat, se-Jawa Timur, se-Jawa dan sebagainya.

About Boneka Hantu

SELALU INGIN BERBAGI

Diskusi

Belum ada komentar.

Komentar Dong's

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Facebook Fans

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Singgah

  • 95,513 hits
Powered by Wordpress ~ Designed by WooThemes ~ Redesigned by Boneka Hantu