//
Tulisan terbaru
Zaman Kolonial

Sebelum Abad Ke-20


Pengaruh Eropa

                                    ®®®®®®®®®®®®®®®®®®

                                               Oleh : Boneka Hantu

                                    ®®®®®®®®®®®®®®®®®®

            Riwayat kroncong panjang sekali di mulai dengan kedatangan kapal-kapal Portugis di Kepulauan Nusantara pada abad 16 untuk mencari rempah-rempah dan barang lain untuk di perdagangkan di Eropa. Di perkirakan pada kapal-kapal ini para pelaut membawa serta alat musik untuk menghibur diri mereka selama perjalanan di antaranya alat dawai (lut) kecil sejenis ukulele dengan senar empat. Alat inilah yang kemudian hari di sebut kroncong di Indonesia (barangkali istilah tersebut untuk menirukan gaya permainan dan bunyi khas alat itu). Selain alat musik para pelaut itu diperkirakan membawa serta pula beberapa melodi Portugis dalam benaknya yang di mainkan dan di iringi dengan alat dawai itu. Sesampainya di Nusantara, beberapa pelaut itu kebanyakan orang Afrika dan India (dari pada orang Portugis tulen) yang sengaja atau terpaksa ikut kapal Portugis lebih memilih menetap disini dari pada melaut lagi.

Pada awal abad ke 17 masuk pendatang baru dari beberapa daerah di India dan Afrika yang sebelumnya pernah di kuasai Portugis tetapi kemudian di rebut Belanda. Ebanyakan dari pendatang ini juga bukan orang Portugis tulen, melainkan peranakan Portugis dan bekas budak yang telah dibebaskan oleh Portugis. Karena itu mereka di sebut Mardijkers. Para Mardijkers ini sehari-hari menggunakan bahasa Portugis dan membawa serta beberapa unsure budaya yang agaknya berasal dari budaya Portugis, termasuk lagu-lagu dan alat musik. Kebanyakan para Mardijkers ini menetap di dua kota, yaitu Batavia dan Ambon. Dan selama abad ke-17 dan ke-18, bukan hanya bahasa Belanda, bahasa Melayu dan bahas-bahasa local yang bias di dengar di kedua kota itu, melainkan juga bahasa Portugis.

Akibat kawin campur dengan golongan-golongan lain, lama-kelamaan orang yang mempertahankan unsure-unsur kebudayaan Portugis mulai lenyap sebagai golongan tersendir. Sejak awal abad ke 19, bahasa Portugis malah tidak terdengar lagi di kota Batavia dan Ambon sebagai bahasa sehari-hari. Sekalipun demikian, sampai sekarang masih terdapat jejak-jejak budaya Portugis di Indonesia: beberapa nama keluarga (Michiel, Quiko dan lain-lain) dan beberapa istilah Portugis yang telah masuk bahasa Indonesia (lemari, sepatu, bangku, boneka, Sabtu, Minggu dan lain-lain). Dan satu lagi alat-alat dan lagu-lagu yang dibawa oleh pelaut dan Mardijkers itu terdengar dalam konteks musik kroncong, walau dengan banyak perubahan.

Sekalipun demikian bukan hanya orang Portugis dan awak kapalnya saja yang pernah membawa alat-alatmusik dan lagu Eropa ke Nusantara. Alat yang di sebut kroncong barangkali memang pertama kali dibawa oleh kapal-kapal Portugis, sedangkan alat seperti Biola dan Gitar barangkali pertama kali dibawa oleh pendatang dari Inggris, Spanyol dan tentu saja Belanda. Mungkin tidak perlu bersusah payah menentukan dari Negara mana biola atau gitar pertama kali sampai ke Nusantara; yang penting alat tersebut sudah lama menetap disini dan sudah menjadi “alat musik Indonesia”. Semua alat dan lagu tersebut sudah lama berbaur dalam kebudayaan kota maritime di Hindia Belanda, terutama di Batavia dan Ambon.

About Boneka Hantu

SELALU INGIN BERBAGI

Diskusi

Belum ada komentar.

Komentar Dong's

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Facebook Fans

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Singgah

  • 95,513 hits
Powered by Wordpress ~ Designed by WooThemes ~ Redesigned by Boneka Hantu